Sultanking, tindakan memerintah dengan kekuasaan dan otoritas absolut, telah lama diromantisasi dalam sastra dan budaya populer. Dari kerajaan kuno hingga kediktatoran modern, daya tarik untuk memiliki kendali penuh atas masyarakat dan sumber daya suatu negara tidak dapat disangkal. Namun, ada sisi gelap dari sultanking yang sering diabaikan atau diabaikan.
Salah satu bahaya terbesar dari sultan adalah potensi penyalahgunaan kekuasaan. Ketika satu orang memegang seluruh wewenang, maka akan mudah bagi mereka untuk menjadi korup dan menggunakan jabatannya untuk keuntungan pribadi. Sejarah penuh dengan contoh penguasa tirani yang menindas rakyatnya, melakukan kekejaman, dan memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan rakyatnya. Kekuasaan yang tidak terkendali yang timbul dari kesultanan dapat menyebabkan kurangnya akuntabilitas dan transparansi, sehingga menyulitkan warga negara untuk meminta pertanggungjawaban pemimpinnya atas tindakan mereka.
Resiko lain dari terjadinya sultan adalah potensi ketidakstabilan dan kekacauan. Ketika kekuasaan terkonsentrasi di tangan satu individu, setiap kesalahan langkah atau kesalahan perhitungan yang dilakukan oleh orang tersebut dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat buruk bagi seluruh bangsa. Tanpa adanya checks and balances untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, seorang sultan dapat dengan mudah mengambil keputusan yang merugikan perekonomian, keamanan, dan tatanan sosial negara. Hal ini dapat menyebabkan kerusuhan sipil, kekerasan, dan bahkan perang saudara, karena faksi-faksi yang saling bersaing bersaing untuk mendapatkan kendali dalam kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh diktator yang jatuh.
Selain itu, kesultanan juga dapat berdampak negatif terhadap hubungan internasional. Seorang penguasa yang memegang kekuasaan absolut mungkin lebih rentan terhadap agresi dan konflik dengan negara lain, karena negara tersebut berupaya memperluas pengaruhnya dan menegaskan dominasinya di panggung dunia. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan diplomatik, perselisihan dagang, bahkan konflik militer yang mengancam stabilitas regional dan keamanan global.
Kesimpulannya, meskipun secara teori menjadi raja tampak menarik, kenyataannya jauh lebih kompleks dan berbahaya. Pemusatan kekuasaan di tangan satu individu dapat menimbulkan penyalahgunaan, ketidakstabilan, dan konflik, yang mempunyai konsekuensi buruk bagi negara dan rakyatnya. Penting bagi kita untuk mengenali risiko dan bahaya kesultanan dan berupaya untuk mendorong demokrasi, akuntabilitas, dan supremasi hukum sebagai perlindungan terhadap tirani dan penindasan. Hanya dengan belajar dari pelajaran sejarah kita dapat menghindari sisi gelap kesultanan dan membangun dunia yang lebih adil dan damai untuk generasi mendatang.